Saturday, January 12, 2013

Jalan Yang Lurus


Salamullah'alaikum .. Islahu al-Nafsi ..

Ramai dikalangan kita yang tahu bahawa hanya Allah berhak menentukan takdir khidupan, namun sedikit dikalangan kita yang mampu redha dengan ketentuan .. Ramai dikalangan kita yang tahu datangnya ujian itu untuk muhasabah, namun terlalu ramai dikalangan kita yang lebih suka menghitung kecewa tanpa berubah ..


:: Jgn terlalu menghitung jarak perjalanan, asalkan terus dilandasan ::


Saiful Ahmad

Siapa Ghuraba'





ORANG-ORANG YANG ASING


Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim [145] dalam Kitab al-Iman.Syarh Muslim, 1/234).
an-Nawawi rahimahullah menukil keterangan al-Harawi bahwa makna orang-orang yang asing adalah : orang-orang yang berhijrah meninggalkan negeri/daerah mereka karena kecintaan mereka kepada Allah ta’ala (Syarh Muslim, 1/235). Keterangan al-Harawi di atas dilandaskan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan ia akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang asing?”. Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang memisahkan diri dari kabilah-kabilah [mereka].” (HR. Ibnu Majah [3978] dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibni Majah [8/488] namun tanpa tambahan ‘ada yang bertanya, dan seterusnya’, as-Syamilah).
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhu, dia mengatakan; Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dan ketika itu kami berada di sisi beliau, “Beruntunglah orang-orang yang asing.” Kemudian ada yang menanyakan, “Siapakah yang dimaksud orang-orang yang asing itu wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah orang-orang yang jelek lagi banyak [jumlahnya]. Orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada orang yang menaati mereka.” (HR. Ahmad 6362 [13/400], disahihkan al-Albani dalam Shahih w a Dha’if al-Jami’ 7368 [3/443] as-Syamilah)
Syaikh al-Albani rahimahullah menyebutkan di dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah penafsiran makna orang-orang yang asing tersebut dengan sanad yang sahih. Diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al-Fitan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu secara marfu’ -sampai kepada Nabi-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing seperti ketika datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang tetap baik [agamanya] tatkala orang-orang lain menjadi rusak.” (as-Shahihah no 1273 [3/267]. as-Syamilah, lihat juga Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 54).
al-Qari menafsirkan bahwa makna orang-orang yang asing adalah orang-orang yang memperbaiki [memulihkan] ajaran Nabi yang telah dirusak oleh manusia sesudahnya. Beliau berdalil dengan hadits yang diriwayatkan melalui Amr bin Auf al-Muzani radhiyallahu’anhu, demikian dinukilkan oleh al-Mubarakfuri (Tuhfat al-Ahwadzi [6/427] as-Syamilah). Imam Tirmidzi menyebutkan dalam Sunannya hadits tersebut yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mereka itu adalah orang-orang yang memperbaiki ajaranku yang telah dirusak oleh manusia-manusia sesudah kepergianku.” (HR. Tirmidzi [2554] dari Amr bin Auf al-Muzani radhiyallahu’anhu, namun hadits ini dinyatakan berstatus dha’if jiddan -lemah sekali- oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [2630] as-Syamilah, lihat pula Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 53 oleh Syaikh Salim al-Hilali).
al-Mubarakfuri menjelaskan makna ‘ memperbaiki ajaranku yang telah dirusak oleh manusia-manusia’ yaitu : “Mereka mengamalkan ajaran/sunnah tersebut dan mereka menampakkannya sekuat kemampuan mereka.” (Tuhfat al-Ahwadzi [6/428] as-Syamilah). al-Mubarakfuri juga menjelaskan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi di atas bersatus lemah dikarenakan terdapat seorang periwayat yang bernama Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf al-Muzani. al-Mubarakfuri berkata, “Katsir ini adalah periwayat yang lemah menurut banyak ulama ahli hadits, bahkan menurut mayoritas mereka. Sampai-sampai Ibnu Abdi al-Barr mengatakan, ‘Orang ini telah disepakati akan kedha’ifannya’.” Maka keterangan beliau ini menyanggah at-Tirmidzi yang menghasankan hadits di atas (lihat Tuhfat al-Ahwadzi [6/428] as-Syamilah).
Syaikh Salim al-Hilali hafizhahullah berkata, “…tidak ada riwayat yang sah mengenai penafsiran [Nabi] tentang makna al-Ghuraba’ (orang-orang asing) selain dua tafsiran yang marfu’ yaitu : [1] Orang-orang yang [tetap] baik tatkala masyarakat telah diliputi kerusakan. [2] Orang-orang salih yang hidup di tengah-tengah banyak orang yang buruk [agamanya], akibatnya orang yang menentang mereka lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.” (Limadza ikhtartul manhaj salafi, hal. 55).
Imam at-Tirmidzi membawakan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang suatu masa ketika itu orang yang tetap bersabar di antara mereka di atas ajaran agamanya bagaikan orang yang sedang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi [2260] disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’is Sunan at-Tirmidzi [5/260], as-Shahihah no 957. as-Syamilah).

Saiful Ahmad

Thursday, January 10, 2013

Mencari Kehidupan








Ditanah subur mencari kehidupan

Nostalgia hidup menjanjikan rasa,
kesyukuran makin lapuk tertelan,
menjalin suasana luar biasa,
menguji cita rasa fantasia insan,
terdampar mencari jalan di titik masa,
kabur mengharap pengertian.

          Tekad membasahi kudrat 
          menemukan rasa diri antara pencipta
          kepuasan kenikmatan yang sarat
          menjamin kehidupan syurga
          menjamin masa keemasan mulai saat
          agar meja kedamaian sentiasa ada
          sentiasa bertandang tanpa penat
          dalam sabar membiar sembuh luka

Mengharap suratan takdir
tak menjarakkan lagi
berjalan atas haluan terbiar
biar tak terlambat sesal kini



Saiful Ahmad

Friday, January 4, 2013

MUHASABAH CINTA 2012 part 3

MUHASABAH CINTA 2012

Part 3 : YANG TERINDAH dalam kenangan..
SAAT BERGELAR IBU : …Nukilah Oleh : Annur Iman

Firman ALLAH SWT dalam ayat 23, 24 dan 25 Surah Maryam yang bermaksud :
“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan..

“Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu..

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, nescaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu..”

Setelah semua urusan di bahagian check selesai, saya dibawa nurse naik ke wad. Kebetulan pula tiada katil kosong, jadi saya berjalan-jalan dulu. Berkenal-kenalan dengan bakal-bakal ibu dan ibu-ibu yang sudah bersalin. Macam-macam kes dan macam-macam kisah bersalin. Namun rasa ‘sakit’ itu datang, saya makan buah kurma ( 7biji sekali makan) sebab teringat Saidatina Maryam yang makan kurma bila rasa sakit. Yang saya ingat untuk dibawa saat bertolak dari rumah tadi hanya saya bawa air suam dan 1 tupperware buah kurma. Terima kasih pada suami yang membelikan saya tiga kotak buah kurma dan empat kotak air soya untuk saya makan dan minum dalam tempoh sebulan sebelum due date. Alhamdulillah, kurma yang saya bawa itu kurma dari kotak terakhir.

Walaupun sesekali saya menyerigai juga bila sakit itu datang, namun saya berjalan-jalan lagi sebab masih belum dapat katil. Katil masih penuh. Memang hari itu hari wanita bersalin. Berkenalanlah saya dengan seorang kakak tu. Dia masuk ke hospital jam 2 pagi tadi. Waktu tu serviknya baru buka 2cm, tapi jam 6 pagi tadi dia dah selamat bersalin hanya bila terbuka 4cm. Malah tak sempat pun nak turun dewan bersalin, dia dah bersalin kat atas katil. Seronok saya dengar dia bercerita sambil saya menahan sakit. Namun bagi saya kesakitan itu lebih nikmat, alhamdulillah. Rahsianya dia mudah bersalin kerana dia minum minyak selusuh. Dia ada pelawa minyak selusuhnya yang masih banyak pada saya.

Saat itu baru saya teringat, saya memang terlupa membawa minyak selusuh saya. Lagipun minyak selusuh saya memang dah tinggal sikit. Memang sejak di awal kandungan saya berusia tujuh bulan lagi, emak saya dah buatkan minyak selusuh tu dari pati santan. Kemudian minyak itu dibacakan ayat selusuh oleh mak bidan. Minyak selusuh tu sebagai ikhtiar untuk memudahkan bersalin dengan izin ALLAH. Saya perlu minum minyak selusuh tu (dua sudu setiap hari n boleh makan dgn nasi kalau tak lalu minum) dan sapu di perut setiap malam sebelum tidur. Saya terima pemberian minyak tu dengan rasa syukur sangat. Alhamdulillah saya terimanya sebagai jalan ALLAH sedang permudahkan urusan saya bersalin dengan minyak itu, mudah-mudahan.

Tapi saat itu tiada bekas pula mahu isi minyak itu. Lalu kakak tu masukkan minyak tu dalam plastik sayur saja. Saya terfikir pulak, macam mana pula saya nak minum? Akhirnya saya mendapat akal bila melihat tudung botol air mineral yang dibelikan suami tadi. Saya minum menggunakan tudung itu tanpa dilihat nurse. Sebab kebiasaannya, nurse memang tak benarkan ibu-ibu mengandung minum minyak atau sebagainya. Namun itu hanya ikhtiar saya bagi melicinkan proses bersalin.

Menjelang petang, sakit semakin bertambah tapi bila buat check, servik masih buka 2cm lagi. Waktu melawat hanya hingga jam 7.00 malam saja. Saat itu terasa sedih sungguh mahu berpisah dengan suami.

‘Sayang, ingat tau. Kalau sayang dah kena turun level room nanti, sayang bagitahu pada nurse yang bertugas, abang nak masuk tengok sayang bersalin’

‘Insya-ALLAH. Abang doakan im dan anak kita ya. Malam ni abang datang tak?’

'Insya-ALLAH, abang datang lepas isya’ nanti. Mungkin menunggu di luar aje. Ok, abang dah nak balik, sayang jaga diri baik-baik. Banyak-banyak istighfar ya. Lama lagi sayang nak kena tahan sakit hingga servik betul-betul terbuka’.

Saya mengangguk. Entah kenapa saat itu dada terasa sebak. Tak mahu saya ditinggalkan suami waktu tu. Mahu saja dia sentiasa di samping saya. Namun saya ingat dalam hati, jika suami tiada di sisi, insya-ALLAH ALLAH sentiasa ada menemani saya.

‘Insya-ALLAH. Abang doakan ya. Abang jangan risau, ALLAH jaga im dan anak kita, insya-ALLAH. Abang, im minta maaf dosa dan salah silap dunia akhirat ya. Nanti abang tolong bagitahu mak dan ayah juga yang im minta maaf salah silap dunia akhirat’ ujar saya sebak.

Teringat pada qiam pagi tadi, saat hanyut dalam sujud terakhir solat taubat dan tahajud bersama air mata yang berlinangan, saya memohon ampun dan taubat pada ALLAH andai itu qiam terakhir saya di dunia ini. Andai dipanjangkan umur, mudah-mudahan ALLAH permudahkan urusan saya bersalin, moga selamat semuanya. Moga ALLAH permudahkan juga urusan suami saya yang tidak jemu-jemu menjaga dan mendoakan saya dan anak kami sehingga ke saat-saat akhir saya bersalin.

‘Insya-ALLAH’ucap suami saya tergesa-gesa pergi kerana saat itu kak guard nurse dah datang warning waktu melawat dah tamat.

Menjelang petang selepas asar hingga maghrib, saya dah mula rasa sakit-sakit yang berlarutan dalam 10 minit sekali. Terasa ari-ari saya ditekan dan dipulas-pulas. Puas saya berdoa dalam hati, semoga diberikan kekuatan hingga saya sempat bersolat isya’. Waktu itu lidah hati tidak henti-henti dilebatkan dengan istighfar dan zikrullah. Saya menunggu azan dan gagahi bersolat maghrib juga (solat duduk). Selesai solat maghrib, saya gagahi baca al-Quran (surah Maryam) sambil berjalan-jalan, kerana sakit sudah mula terasa menyucuk di pinggang. Waktu tu saya dah tak ada selera dah nak makan kurma. Lagipun petang tadi saya dah makan banyak kurma dan minum minyak selusuh.

Bila saja sakit itu datang lagi, saya bertakbir.. ‘ALLAHHU AKBAR’ beberapa kali di samping tak henti-henti beristighfar ‘ASTAGHFIRULLAH’. Malah saya turut menelan minyak selusuh itu sebanyak-banyaknya. Berdoa dalam hati semoga ALLAH pemudahkan urusan saya bersalin walaupun saya tahu sakit itu akan berpanjangan lagi dan lagi.

Seorang nurse yang mahu mengemas katil hairan melihat saya membaca al-Quran sambil berjalan-jalan sambil memegang pinggang.

‘Puan, kenapa tak duduk?’

‘Duduk saya rasa sakit. Jadi saya berdiri aje. Tak apa, saya ok, insya-ALLAH’

Dia tersenyum. Tiba-tiba dia terpandangkan sejadah di lantai.
‘Puan sakit, masih boleh solat? Solat duduk ke?’

Saya mengangguk. Masih boleh tersenyum padanya.
‘Kalau adik rasa sakit sangat nanti, beritahu nurse bertugas untuk pergi buat check servik ya’

‘Baik nurse, terima kasih’

Saya gagahi juga bersolat isya’ (solat duduk) kemudiannya. Alhamdulillah, tenang sangat hati bila dah selesai bersolat isya’. Selesai solat isya’, saya dah tak mampu nak berjalan. Lalu saya berbaring. Rasa sakit waktu baring lebih sakit berbanding ketika berjalan. Namun setiapkali rasa sakit datang, saya stabilkan dengan turun naik pernafasan. Memang saya amalkan teknik kawal pernafasan tu dari mula rasa sakit tadi. Teknik tu saya praktik dari buku ibu hamil yang diberi klinik. Alhamdulillah, teknik kawal pernafasan itu memang berkesan. Bila rasa sakit, kena tarik nafas panjang-panjang dan lepas melalui mulut. Alhamdulillah, sakit sedikit berkurang. Akhirnya saya tertidur. Namun sesekali saya terbangun juga bila rasa ‘sakit’ tu mengejutkan saya.

Sempat juga saya sendkan mesej pada suami agar mendoakan saya kerana sakit sudah berpanjangan.
‘Abang, sakitnya im. Abang doakan im ya’

‘Alhamdulillah, tadi abang baru solat isya’ kat masjid dan Alhamdulillah, abang ada ajak jemaah masjid solat hajat sama-sama agar sayang mudah bersalin. Jemaah tadi ada dekat 20 orang. Insya-ALLAH abang sentiasa doakan sayang dan baby. Insya-ALLAH sayang mudah bersalin, amin. Jap lagi lepas makan malam, siap-siap untuk ke hospital semula. Sayang, nanti bila nak turun ke dewan bersalin, sayang maklumkan pada nurse yang bertanggungjawab bawa sayang turun, yang abang nak masuk tengok sayang bersalin. Insya-ALLAH nurse tu akan beritahu nurse kat kaunter bawah pulak dan depa akan panggil abang masuk dalam. Yang penting sayang beritahu nurse yang bawa turun sayang tau. Syafakillah habibati..innallahhama’ana...’

Beberapakali dia mengingatkan. Memang itu hajatnya. Mahu melihat sendiri saya melahirkan bayi kami. Saya tersenyum dengan ayat, ‘innallahhama’ana’ itu. Alhamdulillah ya ALLAH.. Insya-ALLAH..

Namun akhirnya ‘sakit’ yang sangat sakit itu akhirnya mengejutkan saya untuk tidak terus tidur. Saya mengerang kesakitan namun tak lah sampai saya menangis. Kakak yang satu wad dengan saya (mengandung juga, tunggu operate) datang menjenguk saya.

‘Adik sakit? Nak akak beritahu nurse?’

‘Ya, boleh jugak akak. Time kasih kak.’

‘Sakitnya ya ALLAH..ALLAHHU AKBAR..’detik hati saya.

Waktu sepanjang rasa sakit itu, yang hanya bermain di lidah saya hanya zikrullah, istighfar dan la ilaa ha illa anta subhanaka inni kuntu minadzo’limin. Selepas itu saya terus dicheck, dan Alhamdulillah waktu tu servik saya dah terbuka 4-5cm.
‘Ok, puan dah kena turun level room. Dah buka 4-5cm. Puan pergi ambik baju baby, pampers dan pet bersalin. Minta suami puan kemas dan simpan barang-barang berharga. Nanti nurse bertugas akan bawa puan turun ke bawah.’

Saya mengangguk, kembali ke katil mengambil barang-barang yang disebutkan tadi. Kemudian saya terus dikejarkan (duduk atas kerusi roda) ke dewan bersalin kira-kira jam 10.30malam. Setiba di dewan bersalin, saya ditinggalkan bersendirian (sementara menunggu servik terbuka habis) di samping alat yang mendetect bunyi jantung baby dalam kandungan. Waktu tu saya hanya mendengar bunyi detikan jantung baby saja di samping menahan rasa sakit yang semakin lama semakin sakit.

Seorang nurse datang pada saya.
‘Puan, maaf. Suami puan tak boleh masuk. Tempat dah penuh’.

‘Oh, tak apalah kalau macam tu’.

Suami tak boleh masuk sebab tempat dah penuh. Kecewa juga namun saya tahu pasti suami saya bertambah2 kecewa kerana saya tahu dia nak sangat masuk tengok saya. Namun segera hati dibisikkan dengan kata-kata taujihad yang entah dari mana datangnya. Berkat doa jemaah masjid, ALLAH kuatkan saya untuk terus bertahan. Mula rasai perang. Terdetik di hati, patutlah besar ganjaran-Nya (menyamai peperangan fi sabil) untuk ibu yang mengandung dan melahirkan anak. Rupanya sebab sakit bersalin memang sakit. Mudah-mudahan anak yang bakal lahir merupakan anak-anak yang soleh berkat ‘kesakitan’ yang dirasai para ibu lantaran menerima tarbiyah ALLAH.

Jadi saya ditinggalkan bersendirian sehingga servik terbuka untuk bersalin. Waktu tu rasa sakit semakin berpanjangan. Wajah suami bersilih di minda.
‘Abang, doakan im dan anak kita. Abang jangan risau, ALLAH ada jaga im dan anak kita. Doakan kami selamat, insya-ALLAH..’

Namun seorang nurse yang tampak agak senior ada meninggalkan pesanan berharga pada saya.
‘Puan, sakit bersalin memang sakit. Banyak-banyak ingat ALLAH’..

Subhanallah..Berapa ramai nurse atau doctor teringat untuk memesan pesanan sebegitu pada pesakit? Alhamdulillah, saya yang terpilih. Memang waktu sakit tu, kita hanya akan ingat rasa sakit saja kalau tak diingatkan untuk ingat ALLAH. Setiapkali sakit, saya beristighfar dan membaca la ilaa ha illa anta subhanaka inni kuntu minadzo’limin. Saya turut bermain dengan turun naik pernafasan untuk mengawal rasa sakit. Apabila saya sudah tidak mampu mengawal pernafasan, nurse yang bertugas mengawasi alatan bersalin di bilik itu memberi saya alat bantuan pernafasan. Jadi bila saya rasa sakit, saya sedut alat tu hingga rasa sakit saya reda sendiri. Dari perbualan para nurse, proses saya bersalin insya-ALLAH akan bermula jam 12.20 mnt pagi.

Akhirnya proses bersalin dijalankan. Mulalah berkali-kali tangan dan kedua-dua peha saya dicucuk dengan jarum berisi ubat pelali. Memang namanya ubat pelali tapi tak buat saya tidur kerana saya masih dapat rasai sakit itu walaupun sudah berkali-kali ditusuk jarum-jarum itu.

‘Puan teran perlahan-lahan, jangan angkat badan.. Ok, tarik nafas dan mula teran ya..’

Pada saya suasana di bilik-bilik bersalin itu juga menjadi factor pendesak untuk saya ‘bersemangat waja’ untuk ‘berperang’. Kerana dari bilik saya itu juga saya dapat mendengar suara para ‘ibu-ibu’ lain di bilik-bilik sebelah yang juga sedang berperang seperti saya. Malah kami seperti saling berlawan pula, siapa dulu yang bersalin dulu.

Kali pertama saya meneran, saya mengagak keluarnya darah dan air ketuban (walaupun saya tak rasa apa-apa pun). Kali kedua saya meneran..
‘Ok, pandai puan meneran. Teruskan meneran macam tu. Ok, dah nampak kepala..’

Kali ketiga, zriappppp… bahagian servik saya terasa digunting. Rasa-rasa macam semut gigit. Mungkin sebab kesan pelali kot. Jadi saya tak rasa sakit sangat. Mereka teruskan bekerja mengeluarkan bayi saya. Kali keempat teran.. Terdengar suara baby buatkan saya rasa lega dan tenang. Bertahmid dan bertakbir sambil memejam mata. Hilang rasa sakit-sakit sewaktu proses bersalin tadi. Hati saya tak putus-putus mengungkap tahmid. Alhamdulillah ya ALLAH, aku dah jadi ibu. Terbayangkan wajah suami. Hati berbisik, ‘moga abang bahagia dengan kelahiran anak ini’.

‘Alhamdulillah, baby dah keluar.. Puan dah jadi mak, tahniah..’ kata sorang nurse.

‘Hmm..kecik comey macam mak dia jugak..’ kata lagi sorang nurse.

Seorang nurse menunjukkan bayi saya. Anak saya. Permata akhirat saya.

‘Puan tengok ni. Lelaki atau perempuan?’ soalnya.
Saya tersenyum. ‘Perempuan’ ucap saya lemah.

‘Puan ciumlah dia. Ni anak puan. Tahniah ya, dah jadi ibu. Alhamdulillah’ ucapnya dengan nada gembira.

Nurse itu berkata lagi pada nurse yang lain yang sedang mencatat.
‘Bayi perempuan, berat 2.26kg, jam 1.04minit pagi’ ucapnya lagi segera meletakkan baby saya di atas dada saya dalam keadaan baby masih tidak berhenti menangis.

Beberapa minit baby saya diambil mereka semula. Kemudian sepi seketika. Saya menjangkakan mereka pergi cuci bayi agaknya. Namun tak lama kemudian, mereka kembali. Dada berdebar bila saya mendengar perbualan mereka.

‘Cepat, kita keluarkan uri pula. Uri tak keluar lagi, tertinggal’.

Uri tak keluar lagi? ALLAH.. Sekali lagi saya disuruh menahan nafas. Mereka terus seluk (separas siku) liang servik saya, mencari-cari uri dan mengeluarkannya. Selukan pertama gagal. Selukan kedua dapat dikeluarkan tapi terputus. Selukan ketiga masih tak dapat keluarkan semua. Akhirnya saya mengalah. Kepenatan yang amat sangat. ALLAHHU AKBARR...
‘Nurse, saya dah tak larat’

‘Baik. Kami akan bius puan’

Selepas tu saya dah tak tahu apa yang mereka lakukan pada saya. Sedar-sedar mereka sedang menjahit liang servik saya dan membersihkan saya termasuk mengemas segala peralatan bersalin. Kemudian saya dipindahkan ke stretcher dan dibawa (bersama baby) naik ke wad saya. Sempat lagi nurse dan kak guard membisikkan pada saya.

‘Tadi kami dah bagi suami puan tengok anak puan ni. Suami puan dah azankan dia dah tadi kira-kira jam 1.40 pagi tadi’

Saya hanya mampu tersenyum dan mengangguk lemah. Saya dibawa kembali ke wad dan dipindahkan ke katil. Waktu tu saya hanya teringatkan suami. Tiba-tiba muncul suami saya yang mendapat kebenaran untuk menjenguk saya saat itu. Alhamdulillah. Bila saja saya melihat wajah suami, terus terasa hilang sakit-sakit yang dirasai sewaktu bersalin tadi. Terus tangannya saya capai. Alhamdulillah ya ALLAH..

‘Alhamdulillah, sayang dah selamat bersalin. Terima kasih sayang’.

‘Anak kita perempuan, dia menangis paling kuat tadi’ ucap saya dengan separuh mata terpejam.

Saat itu saya masih lemah namun rasa sangat bahagia. Lalu suami saya ceritakan waktu dia azan dan iqamatkan anak kami, mata anak kami terbuka luas.

Alhamdulillah ya ALLAH..Memang saya sentiasa berdoa, moga saya selamat bersalin dalam keadaan normal dan moga baby saya lahir dalam waktu qiam. Dan kami namakan dia Es Nurul Misykah AL-‘Ulya.

Moga sedikit perkongsian ini menjadi perkongsian berguna dan menjadi medan untuk kita sejenak bertafakur dan bermuhasabah, betapa kerdilnya diri kita sebagai manusia yang lemah. Memang perlu pergantungan sepenuhnya pada ALLAH.. Bila merasa sakit, barulah rasa tarbiyah dari ALLAH. Bila rasa sakit, terkenangkan sakit emak sewaktu melahirkan saya. Namun sakit emak bersalinkan saya lebih tarbiyah kerana emak bersalin secara operate. Hanya doa mampu saya panjatkan agar segala kepayahan emak dan ayah beroleh syurga di akhirat kelak, insya-ALLAH, amin...

“Ya ALLAH, ampunkanlah dosaku, ampunkan dosa ibu bapaku dan rahmatilah mereka dengan kasih sayang-Mu, sebagaimana mereka menyayangiku ketika diriku masih kecil..

“Ya ALLAH, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang bertaqwa…

“Ya ALLAH, cintakanlah kami kepada keimanan, dan hiasilah ia di dalam hati kami, dan bencikanlah kami kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan… Ya ALLAH, sesungguhnya kami mendambakan cinta-Mu, dan cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta terhadap amalan yang dapat mendekatkan kami kepada cinta-Mu.. Amin Allahhumma Amin..”

Sekian…Terima kasih pada yang sudi membaca.. :) :) :)

~Annur Iman~

Thursday, January 3, 2013

Renungan Iman


Salamullah'alaikum .. 

Sedalam Renungan Iman ..

.::. Andai lemah bagai pohon tak berdaun, Syukuri nafas yang dikurnia saban tahun.. Mana mungkin berkata cukup, kalau sekadar menunggu daun berpucuk .. Tanpa peluh bukti usaha, mencari bertahan simbahan mentari .. Mula sedar kerdilnya diri, bila terasa hidup sendiri .. Moga titisan embun besok pagi, akan membantu mengubati .. Dengan suatu syarat, Redha Ilahi yang diHarap .::.

MUHASABAH CINTA 2012 2

MUHASABAH CINTA 2012

Part 2 : YANG TERINDAH dalam kenangan..

SAAT BERGELAR IBU : … Nukilan Oleh : Annur Iman 

Sabda Rasulullah saw :

" Di antara tanggungjawab ibu bapa terhadap anaknya ada tiga iaitu pertama memberikan nama yang baik , 


kedua, mengajarkan tulisan (ilmu dan adab ) dan ketiga mengahwinkan apabila telah baligh".

Setelah kandungan mencecah usia enam bulan dan ke atas, mulalah saya dan suami mencari-cari nama-nama 


yang baik untuk anak lelaki dan anak perempuan. Ada adik-adik meneka lelaki berdasarkan mimpi. Ada pula 

saudara mara yang meneka lelaki @ perempuan berdasarkan bentuk perut. Namun hanya ALLAH yang Maha 

Mengetahui. Mulanya kami ada scan beberapa kali. Pertama kali scan, tak dapat dikenalpasti. Kedua scan, kata 

doctor, baby kami perempuan namun doctor tak dapat nak confirmkan. Ketiga scan, tak nampak juga kerana kata 

doctor baby lindung dengan kaki. Ada juga saudara mara yang cakap, kalau lindung kaki tu maknanya baby tu 

pemalu. Pemalu kan menyamai sifat semulajadi perempuan. Mungkin anak kami perempuan. Akhirnya scan kali 

ketiga, doctor cakap lelaki.

Namun kami tidak berharap. Lelaki atau perempuan, tetap kami terima sebagai hadiah cinta dari ALLAH untuk 


kami, sebagai permata akhirat kami. Berbulan jugak kami membahaskan nama di samping solat hajat dan 

istikharah untuk kedua nama yang dipilih untuk nama anak lelaki dan nama anak perempuan. Subhanallah, 

memang memiliki satu nama itu adalah nikmat. Kerana bukan mudah nak menetapkan satu nama untuk seumur 

hidup dunia akhirat. Barulah terasa beruntung sungguh diri sendiri memiliki satu nama yang diberikan ibu dan 

bapa, Alhamdulillah..

Alhamdulillah, akhirnya kami menetapkan keputusan. Menamakan anak perempuan (jika perempuan) Es Nurul 


Misykah AL-‘Ulya. Nama ‘Misykah’ tu cetusan dari detikan hati suami menerusi ayat 35, surah An-Nur. Manakala 

nama ‘Nurul’ sebab saya suka maksudnya ‘cahaya’. Al-‘Ulya pula diambil dr satu ayat (tak dapat dikenalpasti surah 

apa), kerana sepanjang mengandung, setiap malam saya mendengar bacaan surah tersebut. Nama untuk anak 

lelaki biarlah jadi rahsia sehingga tiba kelahiran anak lelaki akan datang, insya-ALLAH (doakan ya). Namun 

diletakkan Engku Syed@Syarifah di hadapan nama kerana permintaan dari umi dan abah (mertuaku) untuk 

menjaga keturunan. Kami menurut saja apa yang baik, mudah-mudahan dalam redha ALLAH, insya-ALLAH.

Alhamdulillah, menjelang kandungan yang sudah melepasi 9 bulan waktu tu, memang suami sudah berada di sisi 


saya di Kedah. Debar menunggu hari ‘sakit’ tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Setiap hari dari bulan-bulan 

awal mengandung dulu, memang saya banyak berdoa, mudah-mudahan, ALLAH pemudahkan urusan saya 

bersalin, selamat semuanya. Walau bagaimana susah dan payah pun, saya berdoa, mudah2an saya mampu 

melaluinya, insya-ALLAH..

Saya mencongak-congak, last uzur saya, bulan Islam, 29 Safar 1433, jadi kalau ikut tarikh bulan Islam, ketika 


kandungan saya mencecah usia 39 minggu (bulan Melayu), kandungan saya sudah cukup 9 bulan 10 hari pada 

hari itu. Dan tarikh tu jatuh pada 26 Sept 2012 bersamaan 10 Dzulkaedah 1433. Namun tiada pula tampak tanda-

tanda saya akan bersalin pada hari-hari sebelumnya. Tiada turun darah @ air dan seumpamanya. Jadi, kata 

suami, dia menjangkakan mungkin lambat lagi saya akan bersalin. Namun pada tarikh 24 Sept 2012, Isnin, malam 

itu saya sedikit merasa sakit di bahagian ari-ari, seumpama rasa seperti baby mengeliat di dalam perut. Sekejap-

sekejap saja rasanya.

Namun menjelang malam, macam kerap pula rasa itu datang dalam setengah jam sekali. Suami yang baru balik 


dari masjid malam tu, macam serius tak serius saja lihat saya yang asyik tak habis-habis berjalan pusing-pusing 

ruang tamu hingga dapur. Namun menjelang tengahmalam saya tak boleh tidur kerana saya rasa tak selesa 

waktu baring, masih rasa sakit di ari-ari. Sakitnya sekejap-sekejap datang dan pergi. Menjelang tengahmalam, 

kasihan melihat keadaan saya yang tak boleh berbaring, suami pergi mengambil wuduk. Dia mengajak saya 

duduk di kusyen ruang tamu. Saya duduk diam-diam di sisinya. Suami terus membuka al-Quran, membaca surah 

Alfath dan Luqman sambil memegang perut saya.

Usai membaca doa, kami masuk tidur. Namun saya kerapkali terjaga tidur juga bila ‘sakit’ itu datang. Setiapkali 


rasa sakit, setiapkali itulah suami bangun, pegang perut saya dan bacakan doa. Alhamdulillah, walaupun rasa 

sakit, saya gagahi juga bangun qiam pada pagi itu bila mengenangkan mungkin itu qiam ‘terakhir’ saya. Ajal maut 

itu di tangan Tuhan. Perlu ada persediaan menyamai persediaan mahu berperang. Perlu kekuatan rohani, mental 

dan fizikal. Namun kami masih belum ke hospital sebab masih tiada tanda-tanda saya akan bersalin. Hanya rasa 

sakit di ari-ari itu aje yang datang dan pergi.

Menjelang subuh, saya maklumkan hal sakit itu pada kakak ipar yang sudah berpengalaman 3x bersalin. Kakak 


ipar menggesa saya ke hospital waktu itu juga. Tapi saya masih relaks sebab sakit sudah terasa sedikit 

berkurangan sehingga saya masih sempat lagi menggoreng mee sanggul di dapur pagi itu. Tekak masih mahu 

makan mee goreng itu bila merasakan mungkin itu makanan terakhir saya (jika saya bersalin).

Hujan renyai-renyai di luar rumah. Melihat saya macam dah ‘ok’, suami saya relaks saja.

‘Sayang confirm ke nak pergi hospital jugak? Abang rasa macam sayang tak bersalin lagi. Sakit lagi ke?’

‘Hm..Entah la abang. Dah rasa kurang sikit dah sakit tu. Rasa macam tak payah pi hospital pun tak apa kot. Tapi 


kak umie (kakak ipar) suruh pi jugak. Pi check ja, takut apa-apa jadi kat baby sebab im rasa sakit malam tadi tu.’

‘Hm..Ok. Abang ikut je. Tapi abang rasa sayang tak bersalin lagi kot’.

Pagi tu kami siap-siap selepas bersarapan. Oleh kerana sejuk, pagi tu memang saya tak mandi. Sebab niat saya 


pergi hospital untuk buat check aje. Malah sepanjang perjalanan ke hospital pun saya dah tak rasa apa-apa sakit 

dah. Waktu tu memang rasa confirm akan kena balik rumah semula. Tapi saya dah bawa sekali barang-barang 

baby dan barang-barang saya. Untuk apa-apa kecemasan. Itu memang nasihat nurse dan doctor.

Seawal jam 8.30 pagi kami bertolak ke hospital. Sampai di sana lebih kurang jam 9.30 pagi. Saya dan mak turun 


dulu sementara suami mencari parking. Agak lama juga kami menunggu suami hingga saya dan mak saya sudah 

dua kali ke tandas, tapi suami saya masih tak muncul-muncul juga. Katanya tempat parking full. Tak ada parking. 

Memang ramai orang di hospital.

Saya mesej begini pada suami,

‘Hm..Nasib la im tak bersalin lagi, kalau tak dah tentu kelam kabut’.

Mood nak buat check terus hilang. Rasa sakit dari semalamnya tu pun dah tak rasa dah. Letih menunggu pulak. 


Namun saya tetap bertekad mahu buat check juga. Akhirnya hampir jam 10.30 pagi, barulah suami muncul. Lama 

betul suami saya cari parking sedangkan saya dan mak saya hanya menunggu di lobi hospital.

Kemudian, kami ke tempat check. Lama juga menunggu. Waktu tu barulah sakit di ari-ari tu kembali terasa 


sekejap-sekejap. Bila buat check, rupanya waktu tu servik dah terbuka 2cm. Subhanallah..Saya macam tak 

percaya. Betul ke saya dah nak bersalin? Bila tanya doctor, saya memang ditahan dan dah kena masuk wad. 

Dalam keadaan terpinga-pinga, saya keluar bertemu suami sekejap.

‘Macam mana? Kena balik?’

Saya menggeleng dengan senyuman. Suami buat muka terkejut.

‘Servik dah buka 2cm. Im kena tahan. Sat lagi im dah kena naik wad. Nanti abang bawa barang-barang im dan 


barang baby naik wad. Tingkat 7’.

Bergetar hati saya menyebut perkataan ‘barang baby’. Di hati terdetik, ‘Subhanallah, aku dah nak jadi ibu…’ Lalu 


saat itu lidah hati saya mula dilebatkan dengan zikrullah yang tak putus-putus.

‘Alhamdulillah.. Eh, sayang dah nak bersalin ke? Bila agak-agak?’

‘Insya-ALLAH malam ni kot’.

Saya tak tahu apa perasaan suami saya waktu tu. Namun dalam hati saya berdebar-debar. Saya akan jadi ibu 


dalam tempoh kurang 24 jam lagi. Dalam hati saya berbisik, ‘abang, doakan im dan anak kita’..



MUHASABAH CINTA 2012 1

MUHASABAH CINTA 2012

Part 1 : YANG TERINDAH dalam kenangan..
SAAT BERGELAR IBU : Nukilan Oleh : Annur Iman 

…suami yang tidak berjihad, tidak akan berpeluang merasa sakit seperti sakitnya seorang isteri ketika melahirkan anak.. – Aku Terima Nikahnya, Ust Hasrizal Abdul Jamil

Waktu saya disahkan mengandung, sebenarnya saya dan suami memang tidak menyangka secepat itu saya mengandung. Alhamdulillah, bunting pelamin orang kata.. :) :) Seperti bakal-bakal ibu yang lain, saya dan suami ambik tahu selok belok penjagaan diri sewaktu mengandung, termasuk makanan yang baik untuk kandungan, pantang larang sewaktu mengandung dan lain-lain lagi.

Memang waktu tu, hal-hal tradisional dan moden bercampur-campur. Banyaklah pantang larang orang-orang tua bercampur dengan nasihat nurse dan doctor, tambah dengan maklumat-maklumat di internet dan media juga. Tak boleh makan itu, tak boleh buat ini. Tak boleh angkat yang berat-berat. Kena banyak makan buah dan sayur. Banyak minum susu, ambil makanan berkhasiat mengikut pyramid makanan, jangan minum air tebu, jangan makan nenas dan tapai dan macam-macam lagi.

Alhamdulillah, saya bersyukur kerana merasai nikmat ‘alahan’ waktu mengandung. Kata abah (mertua) lebih kurang, ‘ibu mengandung, kalau tak rasa alahan, tak ada apa-apa adventure la time mengandung’. Alhamdulillah saya alahan hampir 8 bulan usia kandungan. Ya, saya setuju sangat dengan pandangan abah itu. Alahan itu bukan tanda ibu mengandung lemah. Tetapi alahan tu sendiri adalah untuk menguatkan lagi kandungan agar tidak berlaku keguguran di samping ia dapat menjaga kesihatan ibu dalam mengambil makanan yang baik untuk kandungan.

http://perindusyahidfillah.blogspot.com/2012/04/subhanallah-walhamdulillahbertuahnya.html

Jadi pada bakal-bakal ibu yang mengalami alahan, jangan takut untuk menempoh fasa alahan ketika mengandung. Ia nikmat n tarbiyah ALLAH. Subhanallah..Malah alahan waktu mengandung itulah sebenar-benar tarbiyah ALLAH untuk ibu mengandung. Mudah-mudahan, semakin kuat tarbiyah itu, anak yang bakal lahir nanti merupakan anak-anak yang soleh dan solehah, insya-ALLAH.. AMin..

Alhamdulillah, terima kasih pada suami yang begitu memahami saya. Walaupun kami sering berjauhan (suami di KL, saya di Kedah sepanjang mengandung) namun hati kami sentiasa berpadu kasih fillah. Malah kasih itu bersemi bak bunga yang sentiasa kembang dan mengharum.

Sepanjang berada di Kedah, Alhamdulillah, apa yang saya nak makan, semuanya saya dapat. Memang emak saya sangat memahami selera anaknya ini. Memang masakan emak tiada tandingannya. Selalunya, apa yang saya rasa nak makan, belum sempat saya cakap, emak sudahpun membeli atau memasakkannya. Subhanallah, naluri seorang ibu begitu kuat kan. Hanya seorang ibu betul-betul memahami anaknya. Ayah pula tidak jemu-jemu membawa saya ke klinik setiap bulan untuk pemeriksaan kesihatan ibu mengandung.

Alhamdulillah dengan kurniaan ibu bapa yang begitu memahami dan menyayangi saya. Lalu setiap hari saya berdoa semoga anak yang dalam kandungan saya itu lahirnya menjadi anak dan cucu yang soleh solehah, penyejuk hati.

“Ya ALLAH, ampunkanlah dosaku, ampunkan dosa ibu bapaku dan rahmatilah mereka dengan kasih sayang-Mu, sebagaimana mereka menyayangiku ketika diriku masih kecil.. Amin Allahhumma Amin..”

Setiap hari saya berdoa dengan doa ini untuk ibu bapa saya. Mudah-mudahan, esok-esok anak-anak saya pula yang mendoakan saya dan suami dengan doa itu.. insya-ALLAH…

Bersambung ke Part 2, insya-ALLAH………..

Tuesday, January 1, 2013

Si Tiong Emas



Yang banyak memberi nasihat

Si tiong emas
Sehijau dirimu di taman ingatan
Lirik senyummu masih membunga
Mendendangkan kicauan nyanyian ilahi
Meskipun detik bersama telah menghindar

Si tiong emas
sepi ku sendiri
manik jernih di alur pipi
lewat katamu ku gagahi
menerbangkan legasimu

Si tiong emas
Watakmu tiada pengganti
Melahirkan daku di permulaan puisi
Abadi wajahmu bersama doaku
Terus menghijau di ingatan.

Saiful Ahmad